Selasa, 16 September 2008

Bukan Dia

Seharusnya kamu bisa berpikir sesuai dengan apa yang kamu kehendaki. Bukan hanya menjalankan dan mengiyakan orang lain. Karena hanya kamu yang tahu pilihan dari diri. Malah membodohi diri namun tak pernah mengakui. Yang malah membuatnya merasa ditakuti.

Kamu yang punya andil dalam penciptaannya. Kamu yang selalu mengangguk disetiap ucapannya, kamu yang rasanya tak pernah punya pilihan sendiri karena menganggap dia selalu benar, kamu yang memang dibodohi oleh dirinya. Kamu memang tak akan pernah sadar sampai satu hari kamu merasa ada yang hilang. Suaramu sendiri yang selama ini kamu agungkan sebagai yang terbenar malah menutup segala kemungkinan dengan persepsi yang kamu ciptakan sendiri. Bukan kerugian dari pihaknya tapi kamu yang malah sadar kalau selama ini kamu salah. Dia dengan segala keterbatasan yang ia punya kamu cipta dengan segala ke”Maha”an yang harus dimiliki yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Diciptakan dengan kekuatan otakmu sendiri.

Dan hal itu membuatmu menyesal namun tak ada waktu untuk kembali. Memutar mundur segala kesalahan yang membuatmu—ternyata—dibodohi. Hal yang tak pernah kamu anggap akan terjadi sampai ia naik pitam. Sayangnya kamu tidak akan pernah tahu kapan. Dan hal itu akan menjadi penyesalan terbesarmu. Tak ada yang pernah minta untuk “diagungkan”.

Kini tak akan ada jalan kembali kecuali kamu yang mau mengubahnya. Entah dengan cara apa. Entah kamu mau atau tidak. Karena sebenarnya kamu tidak pernah tahu apa yang kamu mau. Tak pernah punya alasan jelas untuk melakukannya. Hanya mengikuti jalan hidup yang kamu kira paling pantas. Sehingga tanpa sadar kamu akan merasa ia hilang. Menjauh dari jalan yang selama ini kamu pilih. Karena memang dia yang memilih untuk hilang. Meninggalkan khayalan yang memang tak pernah kadi kenyataan. dan memang lirih untuk kembali.

Bukan ia yang minta kekuasaan. Bukan ia yang ingin dinomor satukan. Dan bukan ini saat yang tepat untuknya. Kamu tak pernah bisa baca pikirannya. Karena kamu hanya pereka yang kecewa. Cepat. Sebelum ia memilih untuk diam. Ia diam dan takkan pernah memanggilmu, kamu tak akan pernah tahu mengapa.

Manusia Bodoh

erkadang percaya pada hati malah membuat kita salah jalan. Padahal seharusnya itu merupakan hal paling esensi dalam diri. Yang membuat diri ini percaya atas hal yang akan dilakukan. Sayangnya tak selamanya yang dipercaya membawa kebenaran.
Dibodohi oleh pemikiran sendiri yang malah membawa kita ke penyesalan terbesar selama hidup. Percaya pada keajaiban yang tak selalu terjadi. Tak tahu harus merasa kecewa pada siapa. Pada diri ini yang memang tak pernah mau dengar kata hati lain atau memang dia yang tak tahu arti keajaiban. Yang tak pernah mengerti apa rasa memimpikan hal yang tak pernahkan terjadi.

——————————————————————————————————————————

Saat berdiri disini menatap punggung yang berjalan meninggalkan. Dalam hatimu ada keyakinan bahwa ia akan menoleh ke belakang hanya untuk memberi senyuman selamat tinggal. Walau harus menunggu dikesempatan lainnya, tapi kau percaya suatu saat dia akan menoleh, setidaknya untukmu.

Saat kau percaya bahwa yang kau lakukan merupakan pilihan dan kau menjalankan. Tanpa memikirkan penyesalan yang kan terjadi. Tanpa pernah ingin membuka lembaran itu lagi.

Saat kau merasa ada yang kan berubah karena pengorbanan tak pernah sia-sia. Walau diburu waktu yang tak pernah usai namun kau tetap percaya akan ada titik yang berganti beda.

Saat kau berjalan dalam gelap yang tak pernah lenyap. Hati kecilmu bicara, disana pasti ada secercah cahaya yang menerangi jalan. Yang membawa ke kebenaran yang selama ini tenggelam.

Karena diujang sana ada yang kamu cari. Keajaiban yang selama ini ingin aku perlihatkan. Hal yang datang karena kamu percaya dengan pengorbanan yang tak pernah ada habisnya. Hanya ingin kamu percaya ada hal lain yang tak harus dicari, datang begitu saja.

Dan aku ingin jadi keajaiban itu. Yang membawamu ke jalan baru. Yang akan ada selalu menemanimu.
Karena kamu bukan manusia bodohku. Karena aku yakin, kamu percaya.

It's not easy

Memilih untuk diam dari segala kenyataan yang ada berarti memperpanjang kehadiran atas masalah yang telah lalu. Ia dan mereka takkan pernah tahu apa yang selama ini kau rasakan, yang di korbankan hingga sampai pada penghujung jalan.

Dan kini kau ingin berteriak lantang. Menyuarakan apa yang selama ini dipendam walau waktu takkan izinkan. Karena itu bukan sekarang, dan sekarang bukan yang akan datang.

I tried and tried to let you know
I love you but I'm letting go
It may not last but I don't know
Just don't know..

Tapi kau menyadari bahwa teriakanmu hanya akan menambah pertanyaan. Akan mendatangkan kesulitan bagi yang mendengarkan. Akan menimbulkan keributan karena semuanya terlalu dalam. Memang tak pernah ada kata terlambat tapi yang kau lakukan adalah menghancurkan. Yang takkan kau sadari hingga yang dimaksud akan hilang. Walau tak pernah berharap apapun dari yang ingin diungkapkan, kau hanya akan menertawai diri sendiri karena telah melakukan kebodohan.

Tapi ini sudah tidak bisa bertahan.

Not compatible

Banyak jawaban yang belum bisa dijawab sendiri. Apalagi banyak orang mempertanyakan hal yang sama. Yang selama ini susah payah untuk dicari.
Mereka tak akan pernah tahu apa yang kita rasakan. Yang mereka tahu kita hanya pernah mengalami dan berhasil keluar. Namun mereka tak pernah tahu apa yang telah dilewati sampai tiba di titik akhir. Seakan kita yang paing tahu, seakan kita yang tahu pasti jawabannya. Seakan kita orang yang pantas menjawb pertanyaan itu. Pertanya yang masih terus mengingang di kepala.
Atau sebenarnya pertanyaan itu tak pernah ingin dijawab atau ditemukan jawabannya oleh orang lain. Kita senang menyimpannya sebagai bagian dari misteri kehidupan yang akan terus dibawa. Jika memang harus diawab, itu hanya seadanya. Seada perasaan kita saat itu. Karena kita merasa bukan kita yang pantas untuk memberikan jawaban. Bukan karena lebih banyaknya pengalaman membuat kita menjadi yang paling pintar. Semua pertanyaan yang muncul dari diri seharusnya dapat di jawab sendiri bukan disesuaikan dengan keadaan orang lain. Kita diharuskan untuk belajar menghadapi apa yang terjadi seakan hanya kita yang pernah mengalaminya.
Jika ada yang buka suara tentang jawaban dari pertanyaan itu, kita tidak disarankan untuk menelannya bulat-bulat. Mematoknya sebagai jawaban dari pertanyaan yang selama ini selalu dipertanyakan. Jawaban itu hanya bisa dijadikan contoh dari sekian masukan yang akan kita terima. Apa yang pernah dialami sang pemberi jawaban mungkin sama, tapi apakah kita harus menghadapi masalah yang hadir dalam setiap manusia dengan cara yang sama pula? Walaupun itu fakta, walaupun itu pengalaman yang dianggap berharga, kita harus mampu menganalisa segala kemungkinan yang ada di balik jawaban dari pertanyaan itu.
Karena ternyata pengalaman yang sama bukan jawaban dari pertanyaan yang tak terjawab. Meski merasa ada dalam keadaan yang sama tapi banyak keputusan yang tak boleh disamakan. Kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik semuanya.
Aku lebih memilih bercerita, bukan menjawab pertanyaan. Berbagi yang pernah dirasakan, bukan mendikte apa yang harus dilakukan. Memberi contoh dari apa yang pernah dilakukan, bukan memvisualisasikan apa yang dipertanyakan. Aku pun tak merasa punya sejumlah pengalaman berharga yang patut diceritakan. Kalaupun ada, itu hanya bagian dari kehidupan yang sedang dijalankan. Karena merasa bahwa yang dipertanyakan takkan pernah ingin ditemukan jawabannya. Karena hanya menunggu kenyataan bukan membuat jawaban sendiri atas pertanyaan yang diajukan. Karena lama waktu yang telah dilalui bukan tanda bahwa kita sanggup melewati. Karena waktu hanya merupakan penanda bahwa pengalaman itu berlangsung lebih dahulu dan hanya menjadi kenangan untuk diingat.

Senin, 15 September 2008

Kalian yang Pintar

Sayang mereka pintar tapi tak pernah mengerti arti perbedaan. Kesalahan yang dibuat karena kebiasaan yang membuat kalian yang pintar hanya tahu satu jalan. Jalan yang selama ini ditempuh untuk mengatasi segala macam tantangan dan hambatan yang ada di depan. Memang bukan kuasaku menyalahkan tapi hanya ingin kalian berpikir. Ada dunia lain dibalik semua yang kalian lihat dan percayai dalam hati. Bahwa tak setiap orang diciptakan sama, bahwa setiap orang diciptakan dengan kelebihan masing-masing, dengan cara penyampaiannya sendiri-sendiri agar kalian mengerti.

Jika kepintaran itu ternyata membutakan jalan. Jika kepintaran itu ternyata lebih membawa ego kalian dominan, kalian tak pernah pernah menganggap yang benar menurut yang lain itu benar. Yang kalian tahu hanya apa yang selama ini diajarkan bukan apa yang akan didapat selanjutnya. Tak semua orang punya cara sama. Dan tak semua orang mau dianggap sama.

Kini kau hanya diminta mendengarkan dan menyimak apa yang diterangkan. Apa ang seharusnya didapat. Bukan memberi komentar atas apa yang didengar. Mereka pihak yang tidak mau disamakan punya cara sendiri yang harus kamu pahami. Atas apa yang mereka jabarkan kamu diharapkan bisa memutar sendiri rekaman yang telah diberikan. Menafsirkan sebaik-baiknya sesuai yang kamu mengerti. Kadang mereka tak berharap kamu mau mengerti. Karena ada penghargaan lain yang ingin mereka dapat bukan hanya ucapan selamat.

Kalian dengan kepintaran yang membuat besar kepala. Merasa perlu sesuatu yang lebih dari apa yang seharusnya didapat. Memang kamu berhak, tapi ada batasan antara belajar dan menguasai. Kamu dengan kepintaranmu diminta untuk mandiri. Mencari jawaban sendiri atas ketidakmengertian. Memahami yang mudah bukan menyulitkan diri.

Pada Akhirnya...

Kau tidak akan pernah tahu karena tak pernah ada yang bertanya. Bahkan ia pun tak pernah merasa ada yang salah atau yang ditutup-tutupi. Dan yang terjadi kau hanya akan diam. Hanya bisa berspekulasi dengan keadaan yang kini membuat makin banyak pertanyaan dalam hati. Inikah yang diinginkan selama ini? Saat yang harus dilewati dengan menutup semua rasa yang ingin hinggap.
Dan dia menutup diri karena kau kadang terlihat tak mau tahu. Atau bahkan membuat ia merasa tak seberapa penting untuk hadir. Kini ada keharusan yang membuat ia ada. Bukan keikhlasan yang membuat semuanya terasa nyata. Tapi keadaan yang memaksa kalian untuk tetap bersama, menjalani hidup yang sepertinya sudah digariskan entah petunjuk Tuhan atau karangan semata. Yang akhirnya membuat “kebiasaan” yang jadi alasan tak berarti.
Kau harus menerima. Suatu saat ia akan bergerak. Maju selanngkah atau mengendap-endap meninggalkanmu. Ia tiba-tiba punya nyali besar untuk mengatakan ini padamu. Yang kamu bisa lakukan hanya menerimanya. Bukan berarti kau kalah atau semacamnya. Bukan ego yang seharusna kuasai. Tapi bagaimana mencoba mendengar pendapat mereka yang kadang menjadi sumber dari penyelesaian masalah. Bukan hanya peduli pada pendapatmu sendiri tapi menghargai mereka yang berani bersuara. Harus mengakui bahwa dirmu bersalah atas apa yang terjadi. Bukan permintaan maaf yang ia harapkan. Hanya perhatian akan jerit hati.
Karena ia bukan yang tersingkirkan. Ia adalah bagian dari apa yang kalian ciptakan.
Diharuskanlah kalian untuk belajar. Menerima keadaan yang telah ada tanpa minta perubahan. Karena yang ada kadang kenikmatan. Dan yang terasa tak lengkap malah kesalahan. Jangan mempersulit apa yang telah digariskan karena kalian ada disana. Bersama.

Benarkah??

Banyak yang tak harus kau mengerti.

Dan akupun tak perlu beri penjelasan. Kejelasan tentang hal yang sepertinya dak harus jadi urusannya. Karena aku dan kamu punya dunia sendiri. Yang kadang tak mau saling dimengerti. Karena yang dilakukan hanya bergabung menjadi erat bukan melebur dengan jiwa. Banyak hal yang perlu kau mengerti.

Aku dengan segala keterbatasan yang kadang tak pernah masuk di akal sehatmu. Kau dengan segala kelebihan yang malah membuat aku tak pernah percaya segalanya sempurna. Terkadang terasa tak pernah ada usaha untuk saling mencocokan. Atau setidaknya tahu bahwa tak semua sama. Tak semua punya latas belakang dan sudut pandang yang sama.

Kita dipertemukan mungkin bukan untuk saling mengerti. Tapi hanya saling mengisi. Menemani yang merasa kehilangan. Berbagi pada yang kegirangan. Dengan perbedaan yang mau disatukan.
Seandainya aku punya jalan keluar. Karena yang hanya bisa kulakukan adalah lari dari yang berjalan. Meninggalkan yang seharusnya dipertahankan (tapi hati ini terus bertanya, benarkah?). Kau yang punya kekuasaan sendiri di duniamu yang (sejujurnya) tak mau kusentuh. Keterbukaan yang diberikan herannya membuat hati ini merasa tak nyaman. Masih terasa ada kesalahan yang tak seharusnya dilakukan.

Benarkah aku yang salah karena tak mau melangkah jauh? Atau memang kau yang tak pernah menantikan aku.

If I remember this...

If I remember this…
Sometimes cause a pain. But what else I should do?

Mampu berkorban atas apa yang dianggap benar.

Berani meninggalkan apa yang dirasa tak sesuai.

Namun tetap percaya bahwa keajaiban itu ada.

Hanya itu yang dilakukan.

Dengan segala jenis perasaan yang mengendap di dada.

Dengan lara yang tak pernah tersentuh tawa.

Karena aku menutupi apa yang seharusnya ada.

Berharap dia tak akan pernah tahu sampai aku yang bicara.

Aku tak pernah membohongi kecuali ia tahu entah dari mana.

Aku hanya berusaha ada walau tak nyata.

Tak pernah berpindah jauh dari apa yang ku percaya.

Suatu saat ia kan tahu apa yang telah lama terpendam.

Apa yang selama ini belum pernah terkatakan.

Apa yang selama ini dipelihara sampai tiba waktunya.

Saat kenangan merajai diri.

Karena sebenarnya yang dibutuhkan hanya waktu.
Entah untuk beranjak atau memilih mendekat.
Karena aku tak pernah tahu apa akhir perjalanan.
Karena aku berhenti untuk melanjutkan.

You'll Learn

Problems come and go.
And don’t know when it stoped.
You can resist what’s coming, you can denied that it wasn’t for you.
And sometimes a solved problem can be a new disaster.
It came as a bigger problem you’ll never expected.
What you can do now, learn to face it although it’s not made by you.

Semua diawali dengan kesalahan yang akan membuat kita belajar. Apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya ditinggalkan. Untuk hal yang terlanjur terjadi, kamu diharapkan bisa mengatasi dengan kejujuran. Dengan kepercayaanmu tentang apa yang terjadi. Dengan kepandaianmu untuk membentuk kalimat yang mampu menenangkan jiwa.

Kau hanya akan diajarkan untuk menerima. Tak semua orang sama. Tak semua orang percaya apa yang kamu percaya. Tak semua orang mengerti kata-katamu. Ia pun perlahan akan mengerti. Akan memahami yang kamu lakukan selama ini. Bukan menjatuhkan tapi mengayomi. Bukan menjelekkan tapi menolong. Bukan menutupi hanya melindungi.

Kamu juga diwajibkan untuk menerima. Kesalahan yang dilakukan memang perlu dipertanggungjawabkan. Dengan segala kebijaksanaan yang membuat memahami inti dari yang dicari. Membuat ia pun dapat memahami bahwa kamu peduli. Bukan membodohi tapi menemani. Bukan memungkiri tapi memaklumi.

Karena banyak pelajaran yang harus dilewati.

Aku yang Sadar

ejak awal diri ini yang percaya. Yang lama itu selamanya, lama itu bertahan, waktu yang panjang itu pelajaran. Pengalaman yang menyadarkan akan kebutuhan akan sesuatu yang memang ada untukku. Ketimapangan yang menjadi seimbang karena dibantu waktu menyesuaikan. Tapi ternyata kenyataan berbalik. Yang lama itu berlebihan. Yang lama itu ya.. kelamaan. Kini aku takkan pernah tahu arti semuanya, berteman dengan waktu, karena aku memilih meninggalkan.

Yang terjadi kini aku berubah haluan. Dari yang percaya pada masa muda yang bahagia berganti menjadi masa depan yang terbentang. Yang masih terus digali saat tak ada yang menemani.
Karena waktu yang panjang mengajarkan. Apa yang sepatutnya dimengerti. Membuat diri ini menyadari :
Aku menyadari tak selamanya menunggu membuatmu mendapatkan yang diharapkan. Karena menunggu terkadang membuang-buang waktu. Walau kapu percaya yang dipercaya akan hadir, tapi tak pernah tahu kapan. Itu yang menjadikannya sia-sia.

Aku juga menyadari tak selamanya yang diharapkan datang. Tak selamanya yang diimpikan jadi kenyataan. walaupun kau terus berusaha, tapi tak pernah didapat bahagia. Karena hal itu, kau berusaha sambil menunggu. Yang seharusnya bergerak maju.

Aku pun menyadari tak boleh percaya pada keajaiban kecuali punya waktu seumur hidup untuk menantinya. Karena banyak hal yang tak mungkin untuk jadi nyata, ada hal yang tak seharusnya dibuat nyata.

Aku telah menyadari berubah bukan hanya membalikan jemari, tapi proses yang memakan habis masa. Mulai dari merangkak, hingga kau pun letih menunggu. Dan saat ia mulai berlari, kau takkan pernah mau terkejar.

Aku sangat menyadari tak ada yang di dapat saat lidah ini kelu tak bicara. Karena hanya itu yang akan menelusuri rahasia yang kau ingin tahu. Karena itu senjata untuk ungkap kata hati yang terkunci didasarnya.

Tapi aku sadar, paham, dan menerima. Apapun yang aku lakukan, baik dengan atau tanpa pamrih, kau takkan pernah ada lagi.

Ini Akan Berlalu

Banyak yang gak siap buat dijalanin secepatnya. Kenalan sama orang, di deketin orang, ngelupain orang, dan hal-hal yang berkaitan sama orang di luar hidup kita.
Semua kan butuh waktu yang kadang kita juga gak tahu sampai kapan. Cuma bisa dijalanin dan akan terbiasa kalau memang udah nemu yang pas. Semua bakal membuka diri buat hal baru. Yang gak pernah dilewatin sebelumnya atau yang pernah dilupain sebelumnya.
Walau secara gak sadar kadang kita juga memilih untuk siapa harus membuka diri. bukan tergantung dengan kepribadian yang open atau kebalikannya tapi emang ada orang-orang yang diluar hidup tapi secara gak langsung udah dipilih untuk ada. Ngerti gak?
Gak semua orang punya prioritas teratas untuk masuk ke dalam hidup kita. Cuma orang-orang tertentu yang masuk tanpa dipikir panjang. Ada yang udah ada di depan mata tapi rasanya masih harus nunggu buat jadi orang penting.
Kita gak sengaja ngelakuin itu (terkadang, kadang juga emang karena gak mau. Cari alesannya yang gak nyakitin aja.) karena ada seleksi alam. Terserah orang mau bilang apa dan menilai apa. Tapi setidaknya kita mencoba kok. Kalo gak cocok apa harus dicocok-cocokin?
Butuh waktu panjang buat kenal sama orang. Kalo 2 bulan udah ngrasa suka, ya lanjutin. Ada juga yang 4 tahun tapi rasanya baru kenal kemaren di sms. Yang lebih aneh lagi kalo dan 3 tahun merasa kenal tapi ternyata gak tau apa-apa. Semuanya itu waktu dan keinginan dari kita bikin batas tentang orang tersebut.
Orang emang gak akan pernah ngerti sama alesan kita. Atau emang kita gak pernah ngasih alesan. Dan rasanya mereka memang gak perlu ngerti, bahkan tau, tentang apa yang sebenernya kita rasain. Dan pada saat kita jadi terbuka pun mereka gak perlu tau kenapa. Kenapa baru sekarang, kenapa telat.
Hidup emang pendek. Tapi gak berarti harus cepet-cepet kan ngejalaninnya? Perlu dinikmati biar gak nyesel. Biar yang dijalanin punya kenangan buat diinget dan biar pengalaman disimpan untuk pelajaran.

Gak Secepat Itu

anyak yang gak siap buat dijalanin secepatnya. Kenalan sama orang, di deketin orang, ngelupain orang, dan hal-hal yang berkaitan sama orang di luar hidup kita.
Semua kan butuh waktu yang kadang kita juga gak tahu sampai kapan. Cuma bisa dijalanin dan akan terbiasa kalau memang udah nemu yang pas. Semua bakal membuka diri buat hal baru. Yang gak pernah dilewatin sebelumnya atau yang pernah dilupain sebelumnya.
Walau secara gak sadar kadang kita juga memilih untuk siapa harus membuka diri. bukan tergantung dengan kepribadian yang open atau kebalikannya tapi emang ada orang-orang yang diluar hidup tapi secara gak langsung udah dipilih untuk ada. Ngerti gak?
Gak semua orang punya prioritas teratas untuk masuk ke dalam hidup kita. Cuma orang-orang tertentu yang masuk tanpa dipikir panjang. Ada yang udah ada di depan mata tapi rasanya masih harus nunggu buat jadi orang penting.
Kita gak sengaja ngelakuin itu (terkadang, kadang juga emang karena gak mau. Cari alesannya yang gak nyakitin aja.) karena ada seleksi alam. Terserah orang mau bilang apa dan menilai apa. Tapi setidaknya kita mencoba kok. Kalo gak cocok apa harus dicocok-cocokin?
Butuh waktu panjang buat kenal sama orang. Kalo 2 bulan udah ngrasa suka, ya lanjutin. Ada juga yang 4 tahun tapi rasanya baru kenal kemaren di sms. Yang lebih aneh lagi kalo dan 3 tahun merasa kenal tapi ternyata gak tau apa-apa. Semuanya itu waktu dan keinginan dari kita bikin batas tentang orang tersebut.
Orang emang gak akan pernah ngerti sama alesan kita. Atau emang kita gak pernah ngasih alesan. Dan rasanya mereka memang gak perlu ngerti, bahkan tau, tentang apa yang sebenernya kita rasain. Dan pada saat kita jadi terbuka pun mereka gak perlu tau kenapa. Kenapa baru sekarang, kenapa telat.
Hidup emang pendek. Tapi gak berarti harus cepet-cepet kan ngejalaninnya? Perlu dinikmati biar gak nyesel. Biar yang dijalanin punya kenangan buat diinget dan biar pengalaman disimpan untuk pelajaran.

Kita Teman

Dirimu sendiri yang memilih jalan untuk melanjutkan hidup. Yang memilih jalan untuk mengalami banyak pengalaman. Tak pernah bermaksud menahan hanya inginkan adanya kesadaran siapa teman siapa lawan. Siapa aku diantara peliknya hidupmu. Siapa aku yang terus sadarkan kesalahanmu.
Kamu memilih maju meninggalkan kesalahan yang telah dilakukan. Aku yang mengamati perjalananmu. Aku yang mendengar keluh kesahmu kini ternyata tak pernah mengenalmu. Tak pernah mengerti pola hidupmu. Dan sepertinya kamu tak pernah mau tahu itu.
Aku melakukan apa yang sepatutnya dilakukan atas apa yang aku terima. Dan kamu tidak pernah mencoba melakukannya. Aku bukan orang pengganti yang dapat kau cari saat membutuhkan. Aku kehidupan yang berjalan seiringan. Yang ingin buat kau tersadar masih ada kesalahan.
Apa yang belum kuberikan? Karena ternyata kau tak pernah memilih. Kau yang sibuk dengan duniamu, kadang tanpa ingin menolej ke belakang. Ada bagian hidupmu yang juga ingin kamu.
Aku tak ingin lelah dan meninggalkan. Karena kamu tahu itu akan kulakukan. Kamu bukan menakutiku. Tapi malah memberi keberanian untuk maju. Jika tak ingin tersentuh hidupku, sebaiknya kamu mundur. Tapi hal itu akan membuktikan bahwa kamu mengaku kalah. Bahwa kamu salah dan selama ini yang dipercaya ternyata dusta.
Tapi tampaknya kamu pun tak pernah takut untuk kehilangan. Berani menukar kebahagian nyata dengan pencarian tanpa ujung. Karena yang kamu lakukan hanya berjanji lalu meninggalkan dengan sejuta harapan. Aku yang ingin kamu membaik. Aku yang jaga perasaanmu. Aku yang akan membelamu saat butuh teman.
Aku tahu batasan diri. aku kini tahu kamu tak ingin tersentuh. Hidupmu ya hidupmu. Ternyata lebih egois dari aku. Saat aku sibuk membantumu, memecahkan masalahmu, kamu malah datang menjaring kesalahan baru. Tak pernah ada rasa penyesalan darimu. Bukan sujud maaf yang di inginkan. Tapi rasa keterikatan karena kita teman.