Banyak jawaban yang belum bisa dijawab sendiri. Apalagi banyak orang mempertanyakan hal yang sama. Yang selama ini susah payah untuk dicari.
Mereka tak akan pernah tahu apa yang kita rasakan. Yang mereka tahu kita hanya pernah mengalami dan berhasil keluar. Namun mereka tak pernah tahu apa yang telah dilewati sampai tiba di titik akhir. Seakan kita yang paing tahu, seakan kita yang tahu pasti jawabannya. Seakan kita orang yang pantas menjawb pertanyaan itu. Pertanya yang masih terus mengingang di kepala.
Atau sebenarnya pertanyaan itu tak pernah ingin dijawab atau ditemukan jawabannya oleh orang lain. Kita senang menyimpannya sebagai bagian dari misteri kehidupan yang akan terus dibawa. Jika memang harus diawab, itu hanya seadanya. Seada perasaan kita saat itu. Karena kita merasa bukan kita yang pantas untuk memberikan jawaban. Bukan karena lebih banyaknya pengalaman membuat kita menjadi yang paling pintar. Semua pertanyaan yang muncul dari diri seharusnya dapat di jawab sendiri bukan disesuaikan dengan keadaan orang lain. Kita diharuskan untuk belajar menghadapi apa yang terjadi seakan hanya kita yang pernah mengalaminya.
Jika ada yang buka suara tentang jawaban dari pertanyaan itu, kita tidak disarankan untuk menelannya bulat-bulat. Mematoknya sebagai jawaban dari pertanyaan yang selama ini selalu dipertanyakan. Jawaban itu hanya bisa dijadikan contoh dari sekian masukan yang akan kita terima. Apa yang pernah dialami sang pemberi jawaban mungkin sama, tapi apakah kita harus menghadapi masalah yang hadir dalam setiap manusia dengan cara yang sama pula? Walaupun itu fakta, walaupun itu pengalaman yang dianggap berharga, kita harus mampu menganalisa segala kemungkinan yang ada di balik jawaban dari pertanyaan itu.
Karena ternyata pengalaman yang sama bukan jawaban dari pertanyaan yang tak terjawab. Meski merasa ada dalam keadaan yang sama tapi banyak keputusan yang tak boleh disamakan. Kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik semuanya.
Aku lebih memilih bercerita, bukan menjawab pertanyaan. Berbagi yang pernah dirasakan, bukan mendikte apa yang harus dilakukan. Memberi contoh dari apa yang pernah dilakukan, bukan memvisualisasikan apa yang dipertanyakan. Aku pun tak merasa punya sejumlah pengalaman berharga yang patut diceritakan. Kalaupun ada, itu hanya bagian dari kehidupan yang sedang dijalankan. Karena merasa bahwa yang dipertanyakan takkan pernah ingin ditemukan jawabannya. Karena hanya menunggu kenyataan bukan membuat jawaban sendiri atas pertanyaan yang diajukan. Karena lama waktu yang telah dilalui bukan tanda bahwa kita sanggup melewati. Karena waktu hanya merupakan penanda bahwa pengalaman itu berlangsung lebih dahulu dan hanya menjadi kenangan untuk diingat.
Selasa, 16 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar