Dirimu sendiri yang memilih jalan untuk melanjutkan hidup. Yang memilih jalan untuk mengalami banyak pengalaman. Tak pernah bermaksud menahan hanya inginkan adanya kesadaran siapa teman siapa lawan. Siapa aku diantara peliknya hidupmu. Siapa aku yang terus sadarkan kesalahanmu.
Kamu memilih maju meninggalkan kesalahan yang telah dilakukan. Aku yang mengamati perjalananmu. Aku yang mendengar keluh kesahmu kini ternyata tak pernah mengenalmu. Tak pernah mengerti pola hidupmu. Dan sepertinya kamu tak pernah mau tahu itu.
Aku melakukan apa yang sepatutnya dilakukan atas apa yang aku terima. Dan kamu tidak pernah mencoba melakukannya. Aku bukan orang pengganti yang dapat kau cari saat membutuhkan. Aku kehidupan yang berjalan seiringan. Yang ingin buat kau tersadar masih ada kesalahan.
Apa yang belum kuberikan? Karena ternyata kau tak pernah memilih. Kau yang sibuk dengan duniamu, kadang tanpa ingin menolej ke belakang. Ada bagian hidupmu yang juga ingin kamu.
Aku tak ingin lelah dan meninggalkan. Karena kamu tahu itu akan kulakukan. Kamu bukan menakutiku. Tapi malah memberi keberanian untuk maju. Jika tak ingin tersentuh hidupku, sebaiknya kamu mundur. Tapi hal itu akan membuktikan bahwa kamu mengaku kalah. Bahwa kamu salah dan selama ini yang dipercaya ternyata dusta.
Tapi tampaknya kamu pun tak pernah takut untuk kehilangan. Berani menukar kebahagian nyata dengan pencarian tanpa ujung. Karena yang kamu lakukan hanya berjanji lalu meninggalkan dengan sejuta harapan. Aku yang ingin kamu membaik. Aku yang jaga perasaanmu. Aku yang akan membelamu saat butuh teman.
Aku tahu batasan diri. aku kini tahu kamu tak ingin tersentuh. Hidupmu ya hidupmu. Ternyata lebih egois dari aku. Saat aku sibuk membantumu, memecahkan masalahmu, kamu malah datang menjaring kesalahan baru. Tak pernah ada rasa penyesalan darimu. Bukan sujud maaf yang di inginkan. Tapi rasa keterikatan karena kita teman.
Senin, 15 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar