Kau tidak akan pernah tahu karena tak pernah ada yang bertanya. Bahkan ia pun tak pernah merasa ada yang salah atau yang ditutup-tutupi. Dan yang terjadi kau hanya akan diam. Hanya bisa berspekulasi dengan keadaan yang kini membuat makin banyak pertanyaan dalam hati. Inikah yang diinginkan selama ini? Saat yang harus dilewati dengan menutup semua rasa yang ingin hinggap.
Dan dia menutup diri karena kau kadang terlihat tak mau tahu. Atau bahkan membuat ia merasa tak seberapa penting untuk hadir. Kini ada keharusan yang membuat ia ada. Bukan keikhlasan yang membuat semuanya terasa nyata. Tapi keadaan yang memaksa kalian untuk tetap bersama, menjalani hidup yang sepertinya sudah digariskan entah petunjuk Tuhan atau karangan semata. Yang akhirnya membuat “kebiasaan” yang jadi alasan tak berarti.
Kau harus menerima. Suatu saat ia akan bergerak. Maju selanngkah atau mengendap-endap meninggalkanmu. Ia tiba-tiba punya nyali besar untuk mengatakan ini padamu. Yang kamu bisa lakukan hanya menerimanya. Bukan berarti kau kalah atau semacamnya. Bukan ego yang seharusna kuasai. Tapi bagaimana mencoba mendengar pendapat mereka yang kadang menjadi sumber dari penyelesaian masalah. Bukan hanya peduli pada pendapatmu sendiri tapi menghargai mereka yang berani bersuara. Harus mengakui bahwa dirmu bersalah atas apa yang terjadi. Bukan permintaan maaf yang ia harapkan. Hanya perhatian akan jerit hati.
Karena ia bukan yang tersingkirkan. Ia adalah bagian dari apa yang kalian ciptakan.
Diharuskanlah kalian untuk belajar. Menerima keadaan yang telah ada tanpa minta perubahan. Karena yang ada kadang kenikmatan. Dan yang terasa tak lengkap malah kesalahan. Jangan mempersulit apa yang telah digariskan karena kalian ada disana. Bersama.
Senin, 15 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar